Awas Beredar Buku Menghina Islam "Islamic Invasion"

Ketenangan umat Islam terganggu dengan tersebarnya ‘buku sesat’, seperti Islamic Invasion, Who is This Allah dan ‘komik pelecehan Islam’. Untuk menghindari kejadian tak diinginkan, pemerintah harus segera menariknya dari peredaran. 

Ramadhan, semestinya menjadi bulan istimewa bagi umat Islam Indonesia. Namun, hal itu tidak terjadi di Ramadhan 1424 H ini. Kekhusyukan dan ketenangan beribadah umat, terusik. Kaum muslimin menemukan sejumlah ‘buku dan komik sesat’ di masyarakat.

Isi buku tersebut melecehkan dan menghina umat Islam. Penulisnya tak segan-segan menghujat Allah SWT, Nabi Muhammad saw dan Islam. Satu di antara ‘buku sesat’ itu adalah karangan Dr. Robert Morey yang berjudul The Islamic Invasion –Confronting the World’s Fastest Growing Religion (Invasi Islam—Cara Menghadapi Agama yang Paling Cepat Berkembang di Dunia). 

Buku terbitan Christian Scholars Press, Las Vegas, Amerika Serikat ini, judul cover (sampul depan)nya masih memakai bahasa Inggris. Sementara, isinya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Namun, patut disayangkan buku tersebut tidak mencantumkan siapa penerjemahnya. 

Di halaman 1, di bawah judul buku dan pengarang, tertulis “Eksklusif untuk kalangan sendiri sebagai studi perbandingan agama”. Di bawahnya lagi tertulis alamat PO. BOX, yakni “Overseas Ministry PO BOX 484, Garden Grove, CA 92842-0484, USA”. Di halaman sampul dalam tertulis “Isi buku ini bukan untuk menyerang agama manapun dan pemeluknya, tapi lebih merupakan pembelaan diri terhadap banyaknya buku-buku yang menyudutkan agama dan iman kristiani.” Sepintas lalu buku ini tidak bermasalah. Namun, sangat jauh berbeda jika kita terus membacanya. 

Buku ini tidak layak disebut sebagai buku studi perbandingan agama atau mematahkan argumentasi yang membelokkan iman kristiani seperti disebut dalam buku ini. Sebaliknya, buku karangan orientalis asal Amerika Serikat ini lebih pantas disebut buku hujatan terhadap Islam, karena seluruh cerita di dalam buku tersebut berisi pelecehan dan penghujatan terhadap Allah SWT, Islam, Muhammad saw dan al-Qur’an. Di Sekapur Sirih buku ini misalnya, Morey memutarbalikkan kaidah kebenaran. 

Ia menolak jika kitab suci yang datang belakangan adalah pengukur kebenaran atas semua kitab suci lainnya (sebelumnya). Ia berpendapat, “The old tests the news,” yakni, otoritas yang telah absah terdahulu yang harus mengukur setiap otoritas baru yang mengklaim ini dan itu (hal 5-6). 

Dari situ pelecehan terhadap Islam berlanjut. Pada bagian lainnya, Morey menolak Islam sebagai agama. Menurutnya, Islam sesungguhnya merupakan ‘pendewaan’ budaya Arab abad ke-7. Atau dengan kata lain, Islam lebih bernuansa budaya daripada agama. Itulah sebabnya, semua buku teks dan ensiklopedia mengenai Islam selalu diawali dengan konteks sejarah Nabi Muhammad saw dan pentingnya budaya Arab abad ke-7 (hal 22). 

Tak puas memutarbalikkan kebenaran Islam, Morey mulai melecehkan tata cara ibadah umat Islam. Ia memutarbalikkan makna shalat dalam Islam. Sujud menyembah Allah lima kali sehari menghadap Makkah, Arabia, menurutnya, adalah wujud pemaksaan kultutal dan imperalisme budaya yang menjiwai Islam (hal 30). 

Tidak hanya shalat, Morey pun menggugat ritual ibadah haji. Orientalis yang telah banyak menelurkan buku ini menyebut, ibadah haji adalah perbuatan kejam dan tidak perlu. Haji menjadi beban berat umat Islam yang miskin. Secara konyol, ia menyebut perintah haji karena alasan keuangan dan budaya, bukan karena perintah Allah SWT. Menurutnya, Muhammad mengadopsi upacara keagamaan (haji) para penyembah berhala yang telah ada pada zaman pra-Islam di Ka’bah, Makkah untuk memenuhi tuntutan para pedagang. Dari upacara haji tersebut, ia akan memperoleh keuntungan dan uang dalam jumlah besar (hal 31). 

Lebih jauh lagi, Morey melecehkan perintah Allah SWT memakai jilbab kepada kaum Muslimah. Menurutnya, perintah itu sebagai langkah mundur dan bentuk imperialisme baru. Pakaian yang menutup kepala sampai kaki, tulisnya, adalah pakaian nomad (wanita pengembara yang berpindah-pindah) di gurun pasir pada abad ke-7. Saat ini, kaum hawa sudah tidak cocok lagi mengenakan pakaian itu. Ia hanya cocok digunakan di daerah gurun pasir (hal 31-32). 

Morey pun mengobok-obok hukum Islam. Menurutnya, hukum Islam seperti, potong tangan, rajam dan lainnya sebagai tindakan barbar yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dunia modern saat ini. Syariat Islam adalah bagian dari budaya Arab abad ke-7 yang semestinya sudah harus dibuang. Hujatan Morey kepada Allah SWT dan Rasulullah saw lebih ‘parah’ lagi. 

Morey menyebut, Allah adalah Dewa Bulan. Allah (Dewa Bulan) menikah dengan Dewa Matahari. Dari perkawinan tersebut, lanjutnya, mereka dikaruniai tiga orang putri (Putri-putri Allah), yakni al-Lata, al-Uzza dan Manat. Dalam keyakinan bangsa Arabia, sebut Morey, putri-putri Allah bersama Allah dan Dewi Matahari adalah dewa-dewi tertinggi. Mereka dianggap sebagai dewa sesembahan bangsa Arab yang paling mulia dibanding dewa-dewa lainnya. Namun, selain menyembah Allah, bangsa arab juga menyembah dewadewi lain yang kedudukannya lebih rendah dari Allah (hal 57). 

Otak Morey tampak semakin butek saja. Ia membanding-bandingkan Allah dengan Tuhan dalam al- Kitab. Ia menyebut, Tuhan al-Kitab memiliki kecerdasan, emosi dan kehendak. Sementara Allah, tingkatannya rendah, yaitu setara dengan manusia biasa (hal 63-64). Di bagian lain buku tersebut, Morey menyebut Tuhan menurut al-Kitab dapat dipercaya dan konsisten secara sempurna. Sebaliknya, Allah, tidak bisa dipegang dan dipercaya. Ia tidak terikat dengan sifat-sifatNya maupun kata-katanya. (hal 65-66) 

Hujatan Morey kepada Allah terbilang kelewatan, namun pelecehannya kepada Nabi Muhammad lebih kacau lagi. Ia menyebut Muhammad sebagai orang yang suka marah, mudah naik pitam dan pendendam. Ia membunuh banyak orang, terutama terhadap orang yang mengungkit-ungkit kejelekannya (hal 202- 204). 

Kebencian Morey kepada Nabi Muhammad saw tampaknya sudah sampai ke ubun-ubun. Ia kembali memfitnah Rasulullah saw. Muhammad, sebutnya, adalah orang yang percaya takhayul. Kepercayaan Muhammad pada takhayul, terlihat saat Muhammad menyembah batu hitam yang terdapat di Ka’bah, Makkah (hal 209-210). 

Belum juga puas dengan itu, ia menjelek-jelekkan Rasulullah saw. Nabi Muhammad, sebutnya, adalah seorang penderita epilepsi yang menerima penyakit itu dari ibunya, Aminah. Cerita bahwa Muhammad menggigil saat menerima wahyu dari Allah, menurut Morey, adalah bualan Muhammad saja. Kejadian sebenarnya, karena Rasulullah kumat penyakit ayannya. Yang paling parah, Morey menuding Rasulullah saw sebagai seorang maniak seks. Menurutnya, seksual Muhammad sungguh sangat legendaris. Harem (selir)nya lebih dari dua puluh wanita. Muhammad mampu berhubungan seksual dengan semua haremnya setiap hari sebelum shalat. Dia diperkirakan memiliki kekuatan seksual yang sama dengan tiga puluh orang laki-laki dewasa (hal 212). 

Masih bualan Morey, Muhammad sering memilih beberapa wanita baru sebagai partner seksual. Di samping itu, banyak wanita menawarkan diri menjadi haremnya. Namun, Muhammad biasanya mengamati terlebih dahulu mereka. Bila mereka cukup cantik, ia diizinkan masuk ke dalam haremnya. Namun, bila mereka tak sesuai selera Muhammad, mereka akan diserahkan kepada laki-laki lain. Meraka tidak memiliki pilihan lain, kecuali setuju. Selain berhubungan dengan para pemuja dan haremnya, menurut Morey, Muhammad gemar berhubungan seksual dengan para wanita budak (hal 212-213). 

Cerita di atas barulah sebagian kecil pelecehan Islam yang terdapat di buku Islamic Invasion bualan Robert Morey. Di luar itu, masih banyak lagi. Yang pasti, keberadaan buku Morey itu telah membuat masyarakat, terutama umat Islam Indonesia gerah. Meski demikian, Islamic Invasion bukanlah satu-satunya buku yang menyebalkan umat Islam. 

Di samping buku Morey, masih ada buku lainnya, yakni Who is This Allah karangan G.J.O. Moshay. Mirip seperti buku Islamic Invasion, buku ini telah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dan isinya sarat dengan pemutarbalikan fakta tentang Islam. Moshay mencoba meragukan pemahaman umat tentang al-Qur’an. Ia menyebutkan bahwa yang menurunkan al-Qur’an sesungguhnya bukan Allah SWT sendiri, bukan Malaikat Jibril dan bukan roh suci, melainkan ‘para malaikat’ yang menamakan diri ‘Kami’ (bentuk jamak). Setelah berpendapat demikian, Moshay menyatakan bahwa seorang Muslim jangan menjadi bingung dengan pernyataannya tersebut. Namun, jika ada umat yang bingung, ia dapat memahami kebingungan tersebut (hal 18). 

Moshay juga melecehkan Nabi Muhammad saw. Ia menyebut Rasulullah sebagai seorang pembohong yang paling ulung di seluruh dunia. Hal ini disebabkan dalam seluruh al-Qur’an, Allah dikutip secara terus-menerus sebagai seseorang yang berbicara. Bahkan, dengan menggunakan kata ganti ‘Kami’ yang menggambarkan pribadi atau ilahi yang sangat menakutkan dan berwibawa. 

Selain dua buah buku sesat itu, umat juga menemukan komik-komik ‘aneh’. Komik ‘aneh’ tersebut telah banyak diproduksi. Pada covernya diberi judul “Allah tidak beranak dan diperanakkan”, tapi isinya penuh dengan penghujatan terhadap Islam. 

Sebuah pemurtadan dibungkus dengan cerita bergambar. Selain menarik, pelecehan melalui komik tampaknya lebih tepat mengenai sasaran ketimbang melalui buku. Hanya dengan sebuah cerita pendek diperkuat ilustrasi dan gambar, akidah umat Islam coba digoyang. 

Menurut pemantauan SABILI di lapangan dan berdasarkan informasi, beberapa pihak menyebarkan ‘buku dan komik sesat’ itu secara luas ke masyarakat dengan maksud agar masyarakat, terutama umat Islam, membaca buku tersebut. Kalangan akademisi, seperti Sekolah Tinggi Teologi memanfaatkan buku ini sebagai referensi dalam proses belajar-mengajar. Dengan bahasa yang vulgar dan mudah dicerna, mereka memanfaatkan bukubuku tersebut untuk mengaburkan dan meragukan pemahaman umat tentang Islam.

(Sabili) By: Fakta on 07 Dec 03

Related Posts

Agama 7337572436334013174

Poskan Komentar

Search

Popular Posts